Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...

Selasa, 26 Maret 2019

Makin Banyak Yang Dimiliki, Makin Sedikit Yang Disyukuri.

Rasa bimbang menyelimuti pikiranku, dimana nantinya aku akan live in. Sebelum live in aku justru sibuk mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan bukannya menyiapkan mentalku. Dalam kegiatan live in ini kami belum diberi tahu nantinya akan ditempatkan dimana. Hal inilah yang membuatku semakin takut apakah aku bisa bersosialisasi, berinteraksi dan menyesuaikan diri disana.

Ternyata aku ditempatkan di perkampungan pemulung, tepatnya di Jl. Kejawan Putih Tambak Gg. Pompa Air, Kejawaan Putih Tamba, Mulyorejo, Kota Surabaya, Jawa Timur. Aku mencoba berinteraksi secara langsung dengan membuka percakapan kecil dengan Mas Yusup, dengan harapan bisa menjadi pembuka yang baik dalam perkenalan. Beliau adalah induk semangku untuk beberapa hari kedepan.


Pak Yusuf adalah juragan/pengepul sampah disana sehingga Pak Yusuf memiliki beberapa anak buah disana. Pak Ansori, salah satu anak buahnya adalah bapak yang mengajari pelajaran kehidupan secara nyata di Surabaya. Aku diajak Pak Ansori untuk mencari sampah di Terminal. Jarak tempuh untuk mencapai Terminal kurang lebih 5 km, semua ini ditempuh dengan bersepeda. Melelahkan, namun aku selalu melihat wajah pengharapan dan semangat dari Pak Ansori yan membuatku pantang menyerah. Aku dan Pak Ansori mengambili sampah pada jam 6 sore dan nanti sampai di rumah kurang lebih jam 10 malam.    

Bersepeda menyusuri kota metropolitan ini membutuhkan perjuangan, terlebih lagi bagi Pak Ansori yang menggunakan sepeda dengan keranjang besar. Ukurannya hampir setengah jalan, sehingga tak sedikit mobil/motor yang meng-klakson. Untuk menyebrang juga harus hati-hati. Satu jam perjalanan telah aku lalui dan ahkirnya sampai di sebuah bengkel. Rupanya ini alasan Pak Ansori mengapa berangkat jam 6 sore, karena menunggu bengkelnya tutup sehingga tempatnya bisa untuk memarkirkan sepedanya. Setengah jam beristirahat sembari merilekskan badan dari hiruk pikuk jalanan yang padat, aku menanyakan beberapa pertanyaan kepada Pak Ansori, salah satunya mengenai hal yang paling berkesan/paling disyukuri (bermakna).                                                       

Hal yang paling disyukurinya adalah dapat membahagiakan keluarganya. Aku sungguh terenyuh dengan jawaban Pak Ansori, yang dapat kulihat bahwa Pak Ansori mengatakannya dengan sepenuh hati. Dengan membahagiakan keluarganya, ia merasa mendapat kekuatan yang begitu besar dalam dirinya. Sehingga dalam mencari nafkah seperti ini Pak Ansori tidak pernah patah semangat apalagi merasa wegah-wegahan seperti diriku. Dari Pak Ansori aku menyimpulkan bahwa ia adalah pribadi yang tangguh dan berjiwa militan. Aku mulai meneladani sikapnya untuk menjadi pribadi yang tangguh juga, tidak loyo. Mengingat salah satu butir kepemimpinan dari LKTD yang pernah kujalani dikelas X yaitu Totalitas, tidak setengah-setengah.

Tepat pukul 07.30 akhirnya kami berangkat mencari sampah. Namun tiba-tiba mataku terpana dengan mobil bersirine orange dari arah Utara. Ternyata itu adalah satpol PP. Aku dengan Pak Ansori sungguh mencolok karena membawa bagor di samping bahu kami masing-masing. Dengan berbisik Pak Ansori bilang kepadaku “Ayo lari, lari. Ada satpol PP”. Karena saking ketakutannya, aku justru lari sekencang mungkin. Namun temanku Fafa bilang “Sek dap enteni, aku raiso mlayu” Aku pun menjadi bimbang. Namun semua ini langsung mereda karena satpol PP itu tidak jadi mengejar kita. Mereka hanya berhenti di bahu jalan di bawah lampu merah perempatan untuk membeli makanan.                           

Sudah berjuang melawan ramainya jalanan malam, juga harus waspada kapanpun dan dimanapun berada. Aku hanya terdiam merenenungkan betapa beruntungnya diriku yang jauh dari lingkungan seperti ini, tidak memikirkan bahaya apapun sebegitu paniknya. Live-in kali ini benar-benar mengajarkanku banyak sekali nilai kehidupan bagi diriku. Aku semakin bisa untuk mensyukuri hidup, semakin rendah hati, pantang menyerah dan lebih memahami sesamaku. Terkadang aku masih merasa kurang puas atau kurang dengan apa yang sudah aku miliki. Akibatnya aku jadi merasa belum mencapai tujuan dan kurang bisa mensyukuri apa yang sudah kumiliki. Mulai sekarang aku akan lebih mensyukuri apa yang aku miliki.

Oleh : Bonifatius Wisnumurti Bayuaji
XIA4/5, De Britto’19, Januari 2018
(dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No. 95, Mei 2018) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar