26 Nopember 2017, sang surya tepat berada diatas kepala. Udara
cukup gerah, ditambah lagi aku memakai kaos tebal rajutan lengan panjang dan
berleher tinggi. Sengaja aku memakai pakaian perang seperti itu untuk mencegah
aku dari kedinginan di sepanjang perjalanan. Harapanku, jika badanku merasa
cukup hangat maka aku terhindar dari terlalu seringnya ritual ke toilet. Dengan
begitu aku akan bisa menikmati perjalanan dengan nyaman dan bisa tidur untuk
membayar hutang tidur malam sebelumnya. Meski kenyataannya selama 4 jam
perjalanan aku tidak terlelap sedetikpun meski mata sudah terpejam.
Tampilkan postingan dengan label becak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label becak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Mei 2018
Rabu, 15 Januari 2014
BECAK PAK YANTO
Malam
itu, sekitar jam 21.15, Pak Yanto masih bertahan di depan-samping pintu gerbang
Gereja. Melalui jalan itulah orang-orang keluar-masuk ke lingkungan seputar
gereja. Bersama dengan satu temannya, beliau menunggu, siapa tahu masih ada
orang yang ingin naik becaknya. Sesekali, pandangannya dilayangkan ke halaman
gereja, apakah ada tanda-tanda masih ramai atau sudah sepi. Kalau ramai, tentu
beliau masih punya harapan akan mendapatkan uang.
Becakku, penghidupanku…
Saya
melangkah untuk mengampiri beliau. Malam itu, bintang-bintang sudah bermunculan
dan memancarkan terangnya, termasuk menyinari becak Pak Yanto.
Langganan:
Postingan (Atom)
