Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...

Kamis, 07 Juni 2018

APA SIH RENCANAMU TUHAN???

Seorang ibu datang menemuiku. Dia duduk agak jauh dariku. Ini sepertinya kebiasaan orang sini kalau bertamu duduknya jauh banget. Mungkin sebagai sopan santun. Dia bercerita kalau suaminya sudah meninggal. Anaknya 3. Anak pertama kelas 2 SMA, anak kedua kelas 3 SD dan paling kecil masih 10 bulan. Dia ingin menyerahkan anaknya yang SMA kepadaku. Dia berharap aku menghidupinya dan membiayai sekolah. Kusedot cangklongku, dalam bahasa sini encoy.

Kamis, 31 Mei 2018

Becak & Angkutan Jaman Now



26 Nopember 2017, sang surya tepat berada diatas kepala. Udara cukup gerah, ditambah lagi aku memakai kaos tebal rajutan lengan panjang dan berleher tinggi. Sengaja aku memakai pakaian perang seperti itu untuk mencegah aku dari kedinginan di sepanjang perjalanan. Harapanku, jika badanku merasa cukup hangat maka aku terhindar dari terlalu seringnya ritual ke toilet. Dengan begitu aku akan bisa menikmati perjalanan dengan nyaman dan bisa tidur untuk membayar hutang tidur malam sebelumnya. Meski kenyataannya selama 4 jam perjalanan aku tidak terlelap sedetikpun meski mata sudah terpejam.

Kamis, 17 Mei 2018

Menjadi guru hingga berjualan rujak



Manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya harus bekerja sungguh-sungguh agar terpenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Meskipun begitu, bekerjapun tidak selalu mulus seperti Mairi lelaki (52) asal Sampang, Madura, Jawa Timur. Getar getir kehidupan ia lalui, mulai bekerja menjadi guru madrasah hingga jualan rujak buah.

Mairi ketika masih muda bekerja menjadi guru agama di sekolah Madrasah di Pondok Pesantren di Sampang. Bahkan ia sempat pergi ke Malaysia untuk menjadi guru gaji di Masjid dan agama di sekolah. Namun, naas ia tak lagi jadi guru karena sudah tidak pakai lagi oleh sekolah. Ia pulang dari Malaysia setelah bekerja selama 2 tahun.

Senin, 30 April 2018

TANTANGAN IMAN

Jam di dinding menunjukkan pukul 7.50. Kurang 10 menit lagi, kataku dalam hati. Seorang anak mengetuk pintu kamar sambil berteriak-teriak seperti biasa. Aku tanya ada apa? Dia menjawab ada mereka yang mencari romo. Lalu aku goda dengan mengulang kata mereka. Kebiasaan di asrama dan juga di masyarakat adalah selalu menggunakan kata jamak. Jadi meski hanya satu orang akan dikatakan mereka. Sulit sekali untuk mengubah kebiasaan ini. Maka aku sering menggoda dengan mengulang kata “mereka” agar anak-anak ingat untuk menggunakan kata ganti tunggal jika menyebut satu orang.

Kamis, 19 April 2018

Jalan Aspal Memisahkan Kami



Setiap tahun aku menyempatkan untuk pulang kampung setidaknya tiga kali, yaitu saat Natal, Paskah dan Lebaran. Dalam tiap kesempatan pulang kampung memang sering kutemui hal-hal baru. Jalan tanah yang becek saat hujan sekarang berubah menjadi jalan beraspal, beberapa teman sekolahku sekarang sudah dipanggil kakek lantaran sudah punya cucu dan rumah-rumah baru bermunculan di sepanjang jalan kampungku meski awalnya dulu adalah kebonan  yang penuh dengan pepohonan. Pemuda-pemudi yang lalu lalang di jalan depan rumah juga tak banyak yang kukenal meskipun mereka sebenarnya adalah anak dari warga kampungku.

Senin, 09 April 2018

Ia Semakin Diam



Mataku tak pernah lepas dari dia. Seorang anak 14 tahun. Setahuku ia anak pendiam. Begitu pula yang dikatakan teman-temannya. Pagi hari berangkat ke sekolah. Sepulangnya dia bermain. Petang hingga malam ngamen di perempatan besar dekat gubuknya. Hasilnya adalah setoran buat ibunya, yang selalu nunggu sambil membawa si adik mungil
 
Sudah lebih dari tiga minggu ia meringkuk di sel ini. Kecil dan sempit. Tapi mungkin lebih luas dari pada gubuk reotnya yang tersisa dari penggusuran bulan lalu. Namun, itu tetap sebuah sel. Terpisah dari yang dewasa. Terhubungkan hanya oleh jendela tralis. Mencuri HP adalah dosanya.