Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...

Senin, 20 Agustus 2018

Relawan Mengungsi...



Gempa bumi dengan magnitudo 6,9 SR semalam (19 Agustus 2018 pkl. 21.56 WIB) kembali mengguncang Lombok.
Para relawan Solidaritas Relawan Kemanusiaan dari Yayasan Kasih Bangsa Surabaya yang baru saja selesai melakukan rapat koordinasi setelah seharian melakukan aktivitas di posko-posko segera berhamburan keluar gedung saat mendengar suara "kratak kratak" dari bangunan basecamp. Dan akhirnya mereka terdampar semalaman di pinggir jalan karena kuatir bangunan basecamp runtuh. Begitu juga dengan warga sekitar.

Update keterlibatan Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) dalam gempa Lombok



Sejak tgl. 9 Agustus 2018 Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) mengirimkan 3 orang yakni Rm. Wawan CM, Darius Tri dan Liana untuk melakukan assessment sekaligus distribusi logistik ke beberapa tempat yang sulit dijangkau. Setelah mendapatkan posko sementara yang beralamat di Jl. Beo No. 3 Utara SMAK Kesuma Mataram, relawan mulai berdatangan dan bergabung untuk melakukan assessment dan pendistribusian barang-barang bantuan.

Tenaga-tenaga medis baik itu dokter, perawat dan juga bidan mulai bergabung untuk membantu para korban. Banyak sekali dukungan bagi kami dari banyak pihak yang sulit untuk disebutkan satu per satu mulai dari dukungan tenaga sebagai relawan, dukungan dana, logistik dan juga doa tentunya. Bahkan adik-adik gabungan dari SMAK St Louis 1, St. Louis 2 dan SMK St. Louis Surabaya terjun langsung ke jalan untuk mengumpulkan sumbangan dari para pengguna jalan. Terima kasih banyak untuk itu semua.

Jumat, 10 Agustus 2018

SOLIDARITAS UNTUK LOMBOK




Tanggal 5 Agustus 2018 yang lalu, gempa bumi mengguncang kawasan Lombok dan sekitarnya sehingga meluluhlantakkan ribuan rumah dan sarana umum. Ratusan ribu korban jiwa dan korban luka berjatuhan. Ribuan orang yang mengungsi kehilangan sumber penghasilan dan harta benda.

Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) merespon kondisi tersebut dengan mengirimkan 3 orang tim rapid assessment pada tanggal 9 Agustus 2018 kemarin dan disambut dengan gempa susulan yang cukup besar dengan magnitudo 6,2 SR.

Selasa, 24 Juli 2018

Sekamar 7 Orang

Inilah ceritaku, tentang peliknya hidup sebagai orang miskin yang tak punya “rumah” bagi keluarga. Tetangga kamar kost ku adalah seorang perempuan(60) sebut saja Bu Mawar, dengan dua anaknya yang sudah dewasa. Suaminya bekerja di Mojokerto bersama anak bungsunya yang masih sekolah SMA. Dua minggu sekali sang suami datang ke Surabaya untuk menyerahkan uang belanja. Biasanya Rp. 200.000. Konon di Surabaya ini dia juga punya anak yang sudah berumah tangga. Entahlah, aku tak tahu persis berapa jumlah anaknya. Satu anak yang tinggal dengan dia di kost adalah seorang remaja (22) dengan kondisi mengalami kelumpuhan. Ibu kost sering menjenguk si anak ini. Tak jarang beliau membawakan makanan dan obat-obatan. Maklum, keluarga ini sehari-hari berusaha bertahan dengan penghasilan anak perempuannya yang bekerja sebagai penjaga toko minyak wangi dengan upah 1,1 juta perbulan. Mana cukup? Segala urusan yang menyangkut pengeluaran uang harus ekstra ketat, singkatnya apapun harus hemat.

Senin, 09 Juli 2018

MENGHADAPI PENDERITAAN



Hujan sejak sekitar pukul 2 dini hari belum juga reda padahal saat ini sudah hampir jam 10 pagi. Pasti tidak ada mamang (sebutan untuk penjual sayur keliling) yang akan lewat. Masih ada 8 atau 9 km lagi jalan yang hancur dan sulit dilewati jika hujan. Selain licin juga penuh lumpur, sehingga mobil yang dobel gardan saja sering mogok dan harus ditarik oleh alat berat. Apalagi mamang naik motor, pasti akan berpikir berulang kali untuk melewati jalan yang hancur gitu. Benar saja sampai jam 13 an meski hujan sudah reda, mamang penjual sayur tidak ada satu pun yang muncul. Beberapa orang pun mengeluh hal yang sama. Tidak ada sayur untuk dimasak.

Jumat, 29 Juni 2018

Jalan Berduri Bagi Pejuang Antikekerasan

Hari-hari di India tahun 1800an diwarnai dengan kekerasan antar suku yang tidak pernah berujung. Bermula dari persinggungan karena kedatangan perusahaan dagang Inggris. Perusahaan itu bernama East India Trading Company. Didirikan pada September 1599, yang menandai kolonialisme awal di India. Perusahaan itu berdiri sebagai tindakan atas kenaikan harga lada yang begitu tinggi. Pada tahun 1600, Hak eksklusif diberikan Ratu Victoria pada perusahaan tersebut, yaitu kebebasan untuk melakukan perdagangan di wilayah Semenanjung Harapan. Kini wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya.

Sabtu, 23 Juni 2018

Jadi Pemulung Lebih Merdeka

Walaupun bekerja di restoran, tak membuat Iskandar (62) betah. Ia merasa kerja di restoran upahnya kecil dan terkekang sehingga dia memilih jadi pemulung.

Iskandar lahir di Jombang, 5 Mei 1950. Ia memilih bermigrasi ke kota pahlawan sejak usia 9 tahun saat masih kelas 3 SD karena dimarahi orang tuanya.

“Saudara saya yang mengambil uang ayah, tapi saya yang dimarahin. Saya sudah jelaskan, orang tua tetap marah-marah. Saya akhirnya pindah ke Surabaya karena tak mau di keluarga riuh dan ada pertengkaran berkelanjutan,” ucapnya.