Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label PHK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PHK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juni 2017

Warisan Keluarga Penjual Nasi Goreng



Sore itu, matahari mulai terbenam perlahan di sisi barat. Ayam tengah berbaris menuju kandangnya. Gerobak nasi goreng lengkap dengan nasi putih, bumbu, sayur, kompor dan wajan sudah siap menyambut pembeli.

Ahmadi (35) yang saban malam bergelut dengan panasnya wajan segera bergegas menggunakan celana selepas sholat magrib. Tak lama kemudian ia mendorong gerobak nasi goreng menyusuri jalan-jalan di Bendul Merisi Wonokromo Surabaya.

Bermodalkan suara, ia memanggil konsumen sepanjang jalan yang ia lalui dengan kata "nasi goreng" hingga berkali-kali.

Senin, 27 Maret 2017

Penjual gorengan mengais rejeki

Pagi buta tatkala orang-orang masih lelap dengan tidurnya pak po sudah bercucur peluh keringat di dahinya. Dia bukan sedang olahraga pagi. Pria paruh baya ini tengah mengoreng aneka molen, ute-ute, pisang dan ketela goreng.

Pak Po bukanlah nama sebenarnya. Nama asli dia yakni Supri tapi teman-temannya ketika di pabrik hingga sekarang terbiasa memanggil dengan panggilan pak Po.

Pemutusan hubungan kerja (phk) adalah hal menyakitkan. Sudah 15 tahun bekerja di pabrik udang Tropodo tiba-tiba diberhentikan. Tanpa uang pesangon. Dia sedih. Namun, tak lama, dia segera bergegas mencari pekerjaan lagi agar dapur tetap mengepul. Dia mulai mencari informasi pekerjaan. Dari informasi temannya dia diterima kerja di pabrik kayu tapi tidak lama hanya 3 bulan. Setelah itu dia bekerja di loundry tetapi hanya satu bulan.

Senin, 13 Maret 2017

Cinta “otodidak” seorang sopir

Langit sore tampak begitu cepat berlabuh. Lampu jalan menyala menyongsong datangnya malam. Para pekerja bergegas untuk kembali kerumahnya. Namun hal ini tidak bisa dirasakan oleh Judi (50), seorang sopir di salah satu perusahaan. Judi ini terlihat payah, duduk di parkiran gereja, mengenakan baju serba hitam dengan sebatang rokok ditangannya.

Sebagai seorang sopir, setiap hari Judi mendahului matahari terbit, berangkat kerumah majikannya. Menyiapkan mobil, menghantar majikan berangkat kantor, hingga menghantar pulang majikan sore hari bahkan bisa sampai larut malam. Setelah itu baru ia menyapa keluarganya dengan senyuman.

Rabu, 23 November 2016

Yang Miskin Makin Miskin dan yang Kaya Makin Jaya



“Aku sudah ada di depan perumahan.”
“Oke aku akan cari kamu”

Panggilan dari telephone seluler berakhir. Kulihat saat itu waktu di HP menunjukkan pukul 18.40. Wuahhh total 1 jam 20 menit perjalananku dari kantor ke TKP. Lesu dan lunglai rasanya badan ini dihajar oleh kemacetan jalan. Rencana saya hanya diam dan mengamati mereka saja dulu daripada tidak fokus karena kelamaan dijalan.