Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2016

Manusia vs Harta



Liburan imlek kemarin aku pulang kampung. Meski tidak ada acara makan-makan ataupun berkunjung-kunjung ke rumah kerabat untuk berburu angpao, aku sengaja ambil cuti 2 hari untuk berkumpul dengan kedua orangtuaku. Sekedar menghormati dan menyenangkan hati mereka.

Pagi hari, begitu tiba di rumah, aku pun segera masuk ke ruang tengah untuk memindahkan barang-barang bawaanku. Ya elahh.... aku temukan suasana yang berbeda di rumahku kali ini. Aku merasa rumahku yang sekarang seperti penjara!  

Senin, 26 Oktober 2015

Siapa yang Manusia?



Malam itu mulai merayap larut. Pagi tinggal 2-3 jam lagi. Aku masih merokok, meringkuk di bundaran di pekarangan rumah sakit. Tidak ada niat untuk ngopi. Hati ini gelisah dan marah. Membuatku lupa kalau malam ini sangat dingin. Lupa juga kalau renta mulai merayapi tubuh ini.

Di dalam sana terkapar anakku. Ditemani beberapa relawan. Tadi sore dia datang ke sanggar. Baru pulang dari Bandung. Ikut rombongan bonek Persebaya. Tangannya terluka karena huru-hara di Solo. Ternyata itu bukan sekedar luka. Sendi sikunya lepas. Harus operasi. Kepalaku langsung cenut-cenut saat itu. Dari mana kudapatkan uang untuk operasinya?

Jumat, 03 Juli 2015

"Yang Terhormat", Mengapa?



Aku duduk bersila, berhimpitan dengan yang lain di ruangan ini. Bukan ruangan sebenarnya. Setengah terbuka. Persis di pinggir kali. Sebagian  duduk di tengah jalan sempit beralas koran dan kardus. Lampu tidak seberapa terang. Asap rokok mengepul dan melayang. Segera menghilang dari pandangan begitu mencapai udara terbuka. Seperti itulah asa yang tersisa di hati mereka. Kira-kira.

Kutatap satu persatu wajah-wajah di sini. Wajah-wajah lelah. Marah. Tegang. Berpengharapan hanya setengah. Mungkin malah kurang dari itu. Itu pun kalau masih tersisa.  Apa yang ada di benak mereka? Apalagi kalau bukan ancaman penggusuran….