Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label perkebunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkebunan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2016

BINGUNG



Aku duduk di sebuah balok sebesar pelukan orang dewasa yang melintang dekat bibir sungai. Sinar matahari sore tertutup mendung yang menggantung sejak siang. Angin yang kuat berhembus di sepanjang sungai Melawi yang berwarna coklat susu. Entah barapa ratus kubik sampah dari hutan, kebun dan manusia yang terendam di dalamnya. Sesekali tampak balok-balok besar hanyut terbawa arus sungai. Pada saat awal musim hujan seperti ini banyak balok, potongan-potongan kayu, ranting dan sampah dari hutan memenuhi sungai Melawi, sehingga sungai menjadi keruh. Kekeruhan sungai diperparah dengan semakin banyaknya hutan yang gundul sehingga terjadi erosi dan banyaknya penambang emas dalam sungai yang mengaduk-aduk dasar sungai, sehingga air sungai penuh pasir. Tetapi meski keruh air sungai tetap digunakan oleh ribuan penduduk sepanjang tepi sungai untuk mandi, mencuci dan minum. Apalagi saat ini semakin banyak anak sungai yang jernih airnya hilang akibat ditimbun untuk kepentingan perkebunan atau menjadi sama keruhnya akibat penambangan emas yang berada di darat.

Senin, 25 November 2013

Pak Tiap, Potret Masyarakat Indonesia di Bawah MP3EI



Pada suatu hari perjalanan cutiku di daerah Bangka memasuki sebuah pantai yang cukup sepi, namanya Pantai Tikus. Tak ada orang lain selain seorang bapak berperawakan kecil sibuk membuat lubang, mengalasinya dengan terpal, mengisinya dengan pasir pada satu sisinya, dan air laut pada sisi lain yang lebih rendah. Sekilas terlihat seperti seorang anak kecil yang bermain sendirian membangun benteng dan kolam dengan pasir laut. Namun semakin jelas kemudian bahwa dia  sedang mencari timah dengan alat yang super sederhana. Nama bapak itu Pak Tiap. Kupikir dia penduduk asli Bangka, ternyata dia seorang Sunda dari Leuwiliang, Bogor.