Aku duduk di
sebuah balok sebesar pelukan orang dewasa yang melintang dekat bibir sungai.
Sinar matahari sore tertutup mendung yang menggantung sejak siang. Angin yang
kuat berhembus di sepanjang sungai Melawi yang berwarna coklat susu. Entah
barapa ratus kubik sampah dari hutan, kebun dan manusia yang terendam di
dalamnya. Sesekali tampak balok-balok besar hanyut terbawa arus sungai. Pada
saat awal musim hujan seperti ini banyak balok, potongan-potongan kayu, ranting
dan sampah dari hutan memenuhi sungai Melawi, sehingga sungai menjadi keruh.
Kekeruhan sungai diperparah dengan semakin banyaknya hutan yang gundul sehingga
terjadi erosi dan banyaknya penambang emas dalam sungai yang mengaduk-aduk
dasar sungai, sehingga air sungai penuh pasir. Tetapi meski keruh air sungai
tetap digunakan oleh ribuan penduduk sepanjang tepi sungai untuk mandi, mencuci
dan minum. Apalagi saat ini semakin banyak anak sungai yang jernih airnya
hilang akibat ditimbun untuk kepentingan perkebunan atau menjadi sama keruhnya
akibat penambangan emas yang berada di darat.
Tampilkan postingan dengan label perkebunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkebunan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Februari 2016
Senin, 25 November 2013
Pak Tiap, Potret Masyarakat Indonesia di Bawah MP3EI
Pada suatu hari perjalanan cutiku di daerah Bangka memasuki sebuah
pantai yang cukup sepi, namanya Pantai Tikus. Tak ada
orang lain selain seorang bapak berperawakan kecil sibuk membuat lubang,
mengalasinya dengan terpal, mengisinya dengan pasir pada satu sisinya, dan air
laut pada sisi lain yang lebih rendah. Sekilas terlihat seperti seorang anak kecil
yang bermain sendirian membangun benteng dan kolam dengan pasir laut. Namun
semakin jelas kemudian bahwa dia sedang
mencari timah dengan alat yang super sederhana. Nama bapak itu Pak Tiap.
Kupikir dia penduduk asli Bangka, ternyata dia seorang Sunda dari Leuwiliang,
Bogor.
Langganan:
Postingan (Atom)
