Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juli 2017

Hahhh??!.. masih ada sekolahan seperti ini di Surabaya???



Inilah ceritaku, tentang betapa memilukannya ketimpangan kondisi pendidikan masa kini. Suatu kali ada begitu banyak sumbangan yang diberikan para donatur kepada Yayasan. Berupa perlengkapan sekolah seperti alat tulis, pensil warna, buku-buku dan alat peraga pendidikan. Bantuan itu dikemas dan dipack sesuai jenisnya untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah atau pihak-pihak yang membutuhkan. Tempo hari barang-barang serupa dikirimkan ke sebuah sekolah di Manggarai dan mereka menerima barang-barang itu dengan penuh suka cita. Senang sekali rasanya saat melihat senyum anak-anak di sekolah itu dengan seragam baru, tas baru yang di dalamnya penuh dengan buku dan alat tulis.

Selasa, 29 November 2016

WUJUD KASIH



Baru kali ini aku datang ke upacara pengantin orang Madura. Ya ampun heboh sekali. Sampai aku mikir, berapa juta biayanya. Meskipun di desa, mereka pesta semalam suntuk nanggap Orkes Melayu.  Wah pokoknya keren habis... Bagiku ini luar biasa.

Beberapa hari yang lalu aku menerima SMS yang bunyinya “Buk, kula badhe rabi kalih minggu malih, ibuk teko yo.“ (Bu, saya mau menikah dua minggu lagi, ibu datang ya). Wow aku terpana, ini luar biasa. Sodik anakku akan menikah. Lho, yang aku kagum calon istrinya lulusan S1 dan sekarang mengajar di salah satu sekolah di Madura. Bapaknya Sodik meninggal 2 tahun yang lalu, ibunya stroke dan sekarang tinggal di Madura.

Senin, 24 Oktober 2016

Bocah Penjual Koran & Adiknya



Malam ini, aku dan seorang teman lamaku sedang berada di sebuah kedai Mie Makassar di samping Kebun Bibit daerah Bratang. Sambil menikmati masing-masing seporsi jumbo Mie Makassar, kami asyik bercerita tentang banyak hal. Tentang pengalamannya berlibur di Singapura baru-baru ini sampai ke persoalan keluarga kami masing-masing.

Ditengah-tengah keasyikan kami makan dan bercerita, muncullah seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan dan mereka berdiri tepat di samping meja kami. Bocah laki-laki tampak memegang beberapa eksemplar tabloid dan di tangan bocah perempuan yang lebih kecil tampak beberapa eksemplar koran.

Selasa, 12 Mei 2015

Kasih mengalahkan segalanya



Baru kali ini aku ke pemakaman dengan situasi sangat tidak bersahabat, hujan dan makamnya seperti sawah yang baru dibajak dan penuh air sampai ukuran diatas mata kakiku. Saat peti jenasah Joe dimasukkan liang lahat aku lebih senang mengatakan diceburkan, karena dimasukkan berarti keadaan tanah kering sedangkan makam ini wah penuh air. Aku tidak tega karena peti mengapung diatas air. Aku juga gelisah karena takut ada cacing dikakiku. Selesai pemakaman, aku panik karena romo kok tidak kelihatan. Celingak celinguk aku mencari, ternyata romo dengan cepat bergegas menuju mobilnya dan membersihkan kakinya. Tanpa berlama lama aku segera ke mobil romo, karena kalau tidak, aku akan pulang dengan siapa. Tidak ada yang kukenal dan makam ini jauh dari rumahku. Saat dirumah duka aku sudah bimbang mau ikut kemakam, atau tidak ya, tapi dengan siapa, karena tidak ada yang kukenal. Ada 1 temanku, itupun dia tidak bisa ikut ke makam karena harus segera masuk kerja. Tapi kalau tidak ikut aku sangat tidak tega. Syukurlah aku menemukan seorang romo yang kukenal dan aku diijinkan ikut ke mobilnya, lega rasanya.

Rabu, 08 April 2015

AKU BANGGA PADAMU TEMAN-TEMAN...catatan reuni



Teras rumah yang dulu kami jadikan sekretariat cukup penuh dengan anak. Malam ini kami mengadakan reuni anak-anak yang dulu tinggal di rumah singgah. Acara ini dibuat sangat mendadak setelah malam sebelumnya kami berkumpul di warung kopi lalu memutuskan untuk mengundang teman-teman lain yang masih dapat dihubungi. Akhirnya malam ini ada beberapa teman lama yang berkumpul. Tawa kami seolah tidak pernah berhenti. Kisah lama yang lucu, memedihkan, konyol dan sebagainya dibuka kembali dan membuat kami tertawa.

Melihat semua teman yang hadir aku menjadi bangga dan terharu. Pada tahun 1999 mereka masih kecil-kecil. Kumuh. Liar dan tidak mempunyai masa depan. Mereka adalah anak jalanan yang menghabiskan waktu hidupnya selama 24 jam di jalanan. Hidup dari mengamen di perempatan jalan, jualan koran atau melakukan hal-hal lain untuk mempertahankan hidup yang keras. Kini mereka sudah hidup seperti manusia pada umumnya. Memiliki keluarga dan bekerja seperti manusia pada umumnya. Semua sudah mempunyai kendaraan pribadi. Tempat tinggal sendiri meski masih kontrak atau bersama orang tua. Tetapi jauh lebih bagus daripada tidur di emper toko atau di tepi jalan. Mereka pun sudah tidak hoyen lagi atau mencari makanan dari sampah restoran siap saji. Mereka bangga pada pekerjaan dan keluarganya.

Rabu, 01 April 2015

Permenungan Pendidikan Sekolah



Tulisan di bawah ini diperoleh dari teman di HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia). Mungkin baik menjadi bahan permenungan para pendidik di sekolah-sekolah kita.

-------------

■ Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.

Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi  lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.

■ Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.

Selasa, 24 Maret 2015

BIARKAN ANAK-ANAK BEREKSPRESI



Rencananya  malam ini aku ikut serta teman-teman seperjuangan untuk merayakan Natal bersama di Kinibalu. Tetapi tiba-tiba aku dengar suara tawa yang tak begitu asing oleh telingaku. Benar saja. Ada Rinjani Nazwa dan Dyah, anak-anak dampinganku, yang selama ini datang belajar di Sanggar. Aku kira mereka datang hanya untuk bermain-main saja. Awalnya aku ingin meliburkan mereka tetapi niat itu aku urungkan setelah mendengar keluh kesah mereka.

Mereka menyodorkan buku tugas yang diberikan gurunya tadi pagi. Dalam buku tugas tersebut disebutkan bahwa mereka diminta membuat karangan, berlatih membuat drama, mengerjakan soal IPS 50 nomer, dan soal Matematika 40 nomer. Semua harus diselesaikan dalam satu malam itu juga. Hemm, rasanya tidak terima dengan arogansi guru yang memberikan tugas begitu banyak dan harus beres dalam satu malam. Tugas di hari pertama mereka masuk sekolah, seakan-akan untuk mengejar suatu target materi harus selesai.
Aku tidak keberatan dan setuju dengan pekerjaan rumah yang diberikan guru mereka karena secara tidak langsung itu juga membantu mengasah otak mereka. Tetapi apa ya harus langsung begitu banyak tugas dibebankan dalam satu malam kepada mereka? Apakah hakekatnya sebagai anak-anak sekolah dan guru hanya terpasung pada mengerjakan tugas dan menyelesaikan materi saja? Apakah para guru sudah kehabisan ide dan makin kurang kreatif sehingga ujung-ujungnya anak didik hanya sekedar robot yang hanya mengejakan tugas?

Sabtu, 28 Februari 2015

Semangat Belajar, pilihan untuk masa depan…



Kala kami sedang asyik berlatih menyanyi bersama anak-anak di basis Bendul, datang ibunya Rahmat. Ibunya Rahmat meminta waktu untuk mengobrol sebentar.

“Mas Heru, di Sanggar masih ada belajar pagi hari?”, tanya ibunya Rahmat.

“Kenapa, Bu? Rencananya kami mau aktifkan kembali”, jawabku.

“Ini, Mas, Rahmat dan Rini pengin belajar di Sanggar saja. Kalau Ardi masih belum tahu mau ikut belajar di mana”, jawab ibunya Rahmat.

“Loh, apa Rahmat dan Rini sudah tidak sekolah lagi?”, tanyaku dengan wajah kaget.

“Mereka sudah keluar, Mas. Sekarang yang kelas enam sudah tidak ada muridnya di sekolah”, terang ibunya Rahmat.

“Wah, kok kelas enam malah berhenti sekolah. Ada apa sebenarnya?”, cecarku.

“Dhowo ceritane, Mas. Piye nek kene nang omahku sak iki, Mas?. Ngko ta ceritani kabeh kejadiane”, ajak ibunya Rahmat.

Kamis, 05 Juni 2014

Bayar dan Bayar…



ilustrasi.dari www.oceannaz.wordpress.com
Mereka begitu riang bermain. Dua anak ini, bersama anak-anak lainnya. Lari ke sana kemari. Menggoda temannya. Mendekati relawan-relawan pendamping. Ulah mereka membuat tersenyum. Dasar anak-anak. Lincah. Riang. Tak berbeban.

Mereka memang tidak berbeban. Yang berbeban justru orang lain. Orang tua dan kami semua. Dua anak ini tidak sekolah lagi. Baru saja mereka drop out. Alasan ekonomi. Yang satu malah keluar dengan proses dramatis. Begitu pulang dari luar kota dan mendengar si anak ditariki Rp 400.000,00 untuk urusan UNAS, si bapak langsung ke sekolah dan mengajaknya pulang. Langsung keluar saat itu juga.