Inilah ceritaku, tentang betapa memilukannya ketimpangan kondisi
pendidikan masa kini. Suatu kali ada begitu banyak sumbangan yang diberikan
para donatur kepada Yayasan. Berupa perlengkapan sekolah seperti alat tulis,
pensil warna, buku-buku dan alat peraga pendidikan. Bantuan itu dikemas dan
dipack sesuai jenisnya untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah atau
pihak-pihak yang membutuhkan. Tempo hari barang-barang serupa dikirimkan ke
sebuah sekolah di Manggarai dan mereka menerima barang-barang itu dengan penuh
suka cita. Senang sekali rasanya saat melihat senyum anak-anak di sekolah itu
dengan seragam baru, tas baru yang di dalamnya penuh dengan buku dan alat
tulis.
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Juli 2017
Selasa, 29 November 2016
WUJUD KASIH
Baru kali
ini aku datang ke upacara pengantin orang Madura. Ya ampun heboh sekali. Sampai
aku mikir, berapa juta biayanya. Meskipun di desa, mereka pesta semalam suntuk
nanggap Orkes Melayu. Wah pokoknya keren
habis... Bagiku ini luar biasa.
Beberapa
hari yang lalu aku menerima SMS yang bunyinya “Buk, kula badhe rabi kalih minggu malih, ibuk teko yo.“ (Bu, saya
mau menikah dua minggu lagi, ibu datang ya). Wow aku terpana, ini luar biasa.
Sodik anakku akan menikah. Lho, yang aku kagum calon istrinya lulusan S1 dan
sekarang mengajar di salah satu sekolah di Madura. Bapaknya Sodik meninggal 2
tahun yang lalu, ibunya stroke dan
sekarang tinggal di Madura.
Senin, 24 Oktober 2016
Bocah Penjual Koran & Adiknya
Malam ini,
aku dan seorang teman lamaku sedang berada di sebuah kedai Mie Makassar di
samping Kebun Bibit daerah Bratang. Sambil menikmati masing-masing seporsi
jumbo Mie Makassar, kami asyik bercerita tentang banyak hal. Tentang
pengalamannya berlibur di Singapura baru-baru ini sampai ke persoalan keluarga
kami masing-masing.
Ditengah-tengah
keasyikan kami makan dan bercerita, muncullah seorang anak laki-laki dan
seorang anak perempuan dan mereka berdiri tepat di samping meja kami. Bocah
laki-laki tampak memegang beberapa eksemplar tabloid dan di tangan bocah
perempuan yang lebih kecil tampak beberapa eksemplar koran.
Selasa, 12 Mei 2015
Kasih mengalahkan segalanya
Baru kali ini aku ke pemakaman
dengan situasi sangat tidak bersahabat, hujan dan makamnya seperti sawah yang
baru dibajak dan penuh air sampai ukuran diatas mata kakiku. Saat peti jenasah
Joe dimasukkan liang lahat aku lebih senang mengatakan diceburkan, karena
dimasukkan berarti keadaan tanah kering sedangkan makam ini wah penuh air. Aku
tidak tega karena peti mengapung diatas air. Aku juga gelisah karena takut ada
cacing dikakiku. Selesai pemakaman, aku panik karena romo kok tidak kelihatan.
Celingak celinguk aku mencari, ternyata romo dengan cepat bergegas menuju
mobilnya dan membersihkan kakinya. Tanpa berlama lama aku segera ke mobil romo,
karena kalau tidak, aku akan pulang dengan siapa. Tidak ada yang kukenal dan
makam ini jauh dari rumahku. Saat dirumah duka aku sudah bimbang mau ikut
kemakam, atau tidak ya, tapi dengan siapa, karena tidak ada yang kukenal. Ada 1
temanku, itupun dia tidak bisa ikut ke makam karena harus segera masuk kerja.
Tapi kalau tidak ikut aku sangat tidak tega. Syukurlah aku menemukan seorang
romo yang kukenal dan aku diijinkan ikut ke mobilnya, lega rasanya.
Rabu, 08 April 2015
AKU BANGGA PADAMU TEMAN-TEMAN...catatan reuni
Teras rumah yang dulu kami jadikan
sekretariat cukup penuh dengan anak. Malam ini kami mengadakan reuni anak-anak
yang dulu tinggal di rumah singgah. Acara ini dibuat sangat mendadak setelah
malam sebelumnya kami berkumpul di warung kopi lalu memutuskan untuk mengundang
teman-teman lain yang masih dapat dihubungi. Akhirnya malam ini ada beberapa
teman lama yang berkumpul. Tawa kami seolah tidak pernah berhenti. Kisah lama
yang lucu, memedihkan, konyol dan sebagainya dibuka kembali dan membuat kami
tertawa.
Melihat semua teman yang hadir aku
menjadi bangga dan terharu. Pada tahun 1999 mereka masih kecil-kecil. Kumuh.
Liar dan tidak mempunyai masa depan. Mereka adalah anak jalanan yang
menghabiskan waktu hidupnya selama 24 jam di jalanan. Hidup dari mengamen di
perempatan jalan, jualan koran atau melakukan hal-hal lain untuk mempertahankan
hidup yang keras. Kini mereka sudah hidup seperti manusia pada umumnya.
Memiliki keluarga dan bekerja seperti manusia pada umumnya. Semua sudah
mempunyai kendaraan pribadi. Tempat tinggal sendiri meski masih kontrak atau
bersama orang tua. Tetapi jauh lebih bagus daripada tidur di emper toko atau di
tepi jalan. Mereka pun sudah tidak hoyen lagi atau mencari makanan dari sampah restoran
siap saji. Mereka bangga pada pekerjaan dan keluarganya.
Rabu, 01 April 2015
Permenungan Pendidikan Sekolah
Tulisan
di bawah ini diperoleh dari teman di HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi
Indonesia). Mungkin baik menjadi bahan permenungan para pendidik di
sekolah-sekolah kita.
-------------
■ Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.
■ Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.
-------------
■ Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.
■ Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.
Selasa, 24 Maret 2015
BIARKAN ANAK-ANAK BEREKSPRESI
Rencananya
malam ini aku ikut serta teman-teman seperjuangan untuk merayakan Natal
bersama di Kinibalu. Tetapi tiba-tiba aku dengar suara tawa yang tak begitu
asing oleh telingaku. Benar saja. Ada Rinjani Nazwa dan Dyah, anak-anak
dampinganku, yang selama ini datang belajar di Sanggar. Aku kira mereka datang
hanya untuk bermain-main saja. Awalnya aku ingin meliburkan mereka tetapi niat
itu aku urungkan setelah mendengar keluh kesah mereka.
Mereka
menyodorkan buku tugas yang diberikan gurunya tadi pagi. Dalam buku tugas
tersebut disebutkan bahwa mereka diminta membuat karangan, berlatih membuat
drama, mengerjakan soal IPS 50 nomer, dan soal Matematika 40 nomer. Semua harus
diselesaikan dalam satu malam itu juga. Hemm, rasanya tidak terima dengan
arogansi guru yang memberikan tugas begitu banyak dan harus beres dalam satu
malam. Tugas di hari pertama mereka masuk sekolah, seakan-akan untuk mengejar
suatu target materi harus selesai.
Aku
tidak keberatan dan setuju dengan pekerjaan rumah yang diberikan guru mereka
karena secara tidak langsung itu juga membantu mengasah otak mereka. Tetapi apa
ya harus langsung begitu banyak tugas dibebankan dalam satu malam kepada
mereka? Apakah hakekatnya sebagai anak-anak sekolah dan guru hanya terpasung
pada mengerjakan tugas dan menyelesaikan materi saja? Apakah para guru sudah
kehabisan ide dan makin kurang kreatif sehingga ujung-ujungnya anak didik hanya
sekedar robot yang hanya mengejakan tugas?
Sabtu, 28 Februari 2015
Semangat Belajar, pilihan untuk masa depan…
Kala kami sedang asyik
berlatih menyanyi bersama anak-anak di basis Bendul, datang ibunya Rahmat.
Ibunya Rahmat meminta waktu untuk mengobrol sebentar.
“Mas Heru, di Sanggar
masih ada belajar pagi hari?”, tanya ibunya Rahmat.
“Kenapa, Bu? Rencananya
kami mau aktifkan kembali”, jawabku.
“Ini, Mas, Rahmat dan Rini
pengin belajar di Sanggar saja. Kalau Ardi masih belum tahu mau ikut belajar di
mana”, jawab ibunya Rahmat.
“Loh, apa Rahmat dan Rini
sudah tidak sekolah lagi?”, tanyaku dengan wajah kaget.
“Mereka sudah keluar, Mas.
Sekarang yang kelas enam sudah tidak ada muridnya di sekolah”, terang ibunya
Rahmat.
“Wah, kok kelas enam malah
berhenti sekolah. Ada apa sebenarnya?”, cecarku.
“Dhowo ceritane, Mas.
Piye nek kene nang omahku sak iki, Mas?. Ngko ta ceritani kabeh kejadiane”,
ajak ibunya Rahmat.
Kamis, 05 Juni 2014
Bayar dan Bayar…
![]() |
| ilustrasi.dari www.oceannaz.wordpress.com |
Mereka begitu riang bermain. Dua
anak ini, bersama anak-anak lainnya. Lari ke sana kemari. Menggoda temannya.
Mendekati relawan-relawan pendamping. Ulah mereka membuat tersenyum. Dasar
anak-anak. Lincah. Riang. Tak berbeban.
Mereka memang tidak berbeban. Yang
berbeban justru orang lain. Orang tua dan kami semua. Dua anak ini tidak
sekolah lagi. Baru saja mereka drop out. Alasan ekonomi. Yang satu malah keluar
dengan proses dramatis. Begitu pulang dari luar kota dan mendengar si anak ditariki
Rp 400.000,00 untuk urusan UNAS, si bapak langsung ke sekolah dan mengajaknya
pulang. Langsung keluar saat itu juga.
Langganan:
Postingan (Atom)








