Di awal minggu, di awal Festival
Merah Merdeka, kulihat mereka tampil. Pertama kalinya. Baru muncul setelah
panggilan kedua. Wajah tegang. Senyum kaku dipaksakan. Badan gemetar
berkeringat.
Di panggung, wajah mereka menunduk.
Mata beredar ke mana-mana. Tapi, tak pernah memandang kami yang lagi nonton.
Senyum dipaksakan telah hilang. Kaki nggreweli, seperti bergetar tanpa
dimaui. Kocokan gitar dan tabuhan ketipung tak berwibawa. Sama sekali
tak menampakkan rasa pede. Suara kedengaran fales. Lebih parah, mic
tiba-tiba terjatuh. Puncak dari demam panggung yang tanpa ampun membabat.
Kuusap dada penuh prihatin, di
tengah tepuk tangan dan teriak teman-teman memberi semangat. Jelas. Itu bukan
cuma demam panggung. Walau berbeda audience, mereka biasa ngamen di
perempatan jalan. Tapi, di sini. Di panggung situ. Mereka seakan disorot oleh
semua mata. Disorot berarti dinilai. Dan, nilai yang selama ini mereka terima
adalah nilai negatif dari masyarakat plus rasa kasihan beberapa pengguna jalan.
