Saat saya mengikuti kelas AGK (Ajaran Gereja Katolik) di SEP (Sentra
Evangelisasi Pribadi) di RMI pada tanggal 1 Oktober 2015, Romo Ignatius Suparno
yang mengajar ASG (Ajaran Sosial Gereja) memberikan tugas yang menantang kepada
kami, yakni untuk menemui secara intensif seseorang yang miskin dan memberinya
ekspresi (menganggapnya sebagai saudara), tidak perlu memberi, dan mengamati
serta merenungkan ekspresinya. Langsung terlintas pikiran saya kepada seorang
bapak tua di gardu di tengah pemisah jalan kembar di samping gereja Katolik
SMTB (Santa Maria Tak Bercela).
Beberapa bulan ini saat saya mulai berusaha membuat kebiasaan ikut misa
harian setiap hari, disaat itulah saat saya menyeberangi jalan dengan berjalan
kaki, saya selalu melihat kepada seorang bapak tua yang duduk-duduk di gardu di
pemisah jalan Ngagel Jaya Utara itu. Hampir setiap kali saya melintasi jalan
disana, saya selalu melihat bapak tua itu. Bahkan saat saya pergi misa dipagi
hari, saya juga melihat bapak itu masih tidur di luar gardu.
