Malam
itu, sekitar jam 21.15, Pak Yanto masih bertahan di depan-samping pintu gerbang
Gereja. Melalui jalan itulah orang-orang keluar-masuk ke lingkungan seputar
gereja. Bersama dengan satu temannya, beliau menunggu, siapa tahu masih ada
orang yang ingin naik becaknya. Sesekali, pandangannya dilayangkan ke halaman
gereja, apakah ada tanda-tanda masih ramai atau sudah sepi. Kalau ramai, tentu
beliau masih punya harapan akan mendapatkan uang.
Becakku, penghidupanku…
Saya
melangkah untuk mengampiri beliau. Malam itu, bintang-bintang sudah bermunculan
dan memancarkan terangnya, termasuk menyinari becak Pak Yanto.