Rencananya
malam ini aku ikut serta teman-teman seperjuangan untuk merayakan Natal
bersama di Kinibalu. Tetapi tiba-tiba aku dengar suara tawa yang tak begitu
asing oleh telingaku. Benar saja. Ada Rinjani Nazwa dan Dyah, anak-anak
dampinganku, yang selama ini datang belajar di Sanggar. Aku kira mereka datang
hanya untuk bermain-main saja. Awalnya aku ingin meliburkan mereka tetapi niat
itu aku urungkan setelah mendengar keluh kesah mereka.
Mereka
menyodorkan buku tugas yang diberikan gurunya tadi pagi. Dalam buku tugas
tersebut disebutkan bahwa mereka diminta membuat karangan, berlatih membuat
drama, mengerjakan soal IPS 50 nomer, dan soal Matematika 40 nomer. Semua harus
diselesaikan dalam satu malam itu juga. Hemm, rasanya tidak terima dengan
arogansi guru yang memberikan tugas begitu banyak dan harus beres dalam satu
malam. Tugas di hari pertama mereka masuk sekolah, seakan-akan untuk mengejar
suatu target materi harus selesai.
Aku
tidak keberatan dan setuju dengan pekerjaan rumah yang diberikan guru mereka
karena secara tidak langsung itu juga membantu mengasah otak mereka. Tetapi apa
ya harus langsung begitu banyak tugas dibebankan dalam satu malam kepada
mereka? Apakah hakekatnya sebagai anak-anak sekolah dan guru hanya terpasung
pada mengerjakan tugas dan menyelesaikan materi saja? Apakah para guru sudah
kehabisan ide dan makin kurang kreatif sehingga ujung-ujungnya anak didik hanya
sekedar robot yang hanya mengejakan tugas?
