Waktu masih frater tingkat 3 suatu hari waktu pulang kuliah, aku naik sepeda menyerempet pintu gerbang seminari. Akibatnya jam tanganku hancur sebab menghantam pintu besi. Selama beberapa hari kalau kuliah dan kemana-mana aku membawa jam weker tipis. Bagiku asal mengetahui waktu itu sudah cukup. Adik kelasku melihat itu, lalu dia menawari meminjamkan jam tangannya, sebab dia mempunyai beberapa. Aku senang saja dipinjami jam tangan. Setelah beberapa bulan suatu hari dia meminta jamnya kembali. Aku berikan meski ada rasa tidak enak dalam hati. Setiap melihat bekas jam di pergelangan tangan aku merasa tidak nyaman. Suatu hari aku baca buku, dan ternyata ada slip buku yang tulisannya bagus. "If you love something set it free, if it comes back, it's yours. If it doesn't, it never was” (Richard Bach). Tulisan itu meneguhkan aku.
