“Cukup aku saja yang bernasib seperti ini,
adikku jangan”. Ungkapannya itu seolah menjadi “harga mati” dalam hidupnya.
Menginjak usia 15 tahun, mayoritas remaja masih
menikmati masa – masa indah di sekolah. Nongkrong dengan teman seusianya pada
malam minggu. Merasakan indahnya cinta monyet dengan lawan jenis yang sebaya.
Berpacu dengan waktu ketika ada tugas dari sekolah. Hati dag dig dug, pikiran
tak tenang jika esok hari ada ulangan. Tetapi hal ini tak berlaku baginya.
