Aku duduk di
sebuah balok sebesar pelukan orang dewasa yang melintang dekat bibir sungai.
Sinar matahari sore tertutup mendung yang menggantung sejak siang. Angin yang
kuat berhembus di sepanjang sungai Melawi yang berwarna coklat susu. Entah
barapa ratus kubik sampah dari hutan, kebun dan manusia yang terendam di
dalamnya. Sesekali tampak balok-balok besar hanyut terbawa arus sungai. Pada
saat awal musim hujan seperti ini banyak balok, potongan-potongan kayu, ranting
dan sampah dari hutan memenuhi sungai Melawi, sehingga sungai menjadi keruh.
Kekeruhan sungai diperparah dengan semakin banyaknya hutan yang gundul sehingga
terjadi erosi dan banyaknya penambang emas dalam sungai yang mengaduk-aduk
dasar sungai, sehingga air sungai penuh pasir. Tetapi meski keruh air sungai
tetap digunakan oleh ribuan penduduk sepanjang tepi sungai untuk mandi, mencuci
dan minum. Apalagi saat ini semakin banyak anak sungai yang jernih airnya
hilang akibat ditimbun untuk kepentingan perkebunan atau menjadi sama keruhnya
akibat penambangan emas yang berada di darat.
