Aku duduk di
sebuah balok sebesar pelukan orang dewasa yang melintang dekat bibir sungai.
Sinar matahari sore tertutup mendung yang menggantung sejak siang. Angin yang
kuat berhembus di sepanjang sungai Melawi yang berwarna coklat susu. Entah
barapa ratus kubik sampah dari hutan, kebun dan manusia yang terendam di
dalamnya. Sesekali tampak balok-balok besar hanyut terbawa arus sungai. Pada
saat awal musim hujan seperti ini banyak balok, potongan-potongan kayu, ranting
dan sampah dari hutan memenuhi sungai Melawi, sehingga sungai menjadi keruh.
Kekeruhan sungai diperparah dengan semakin banyaknya hutan yang gundul sehingga
terjadi erosi dan banyaknya penambang emas dalam sungai yang mengaduk-aduk
dasar sungai, sehingga air sungai penuh pasir. Tetapi meski keruh air sungai
tetap digunakan oleh ribuan penduduk sepanjang tepi sungai untuk mandi, mencuci
dan minum. Apalagi saat ini semakin banyak anak sungai yang jernih airnya
hilang akibat ditimbun untuk kepentingan perkebunan atau menjadi sama keruhnya
akibat penambangan emas yang berada di darat.
Tampilkan postingan dengan label Sungai Melawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sungai Melawi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Februari 2016
Kamis, 08 Mei 2014
MENJADI GURU DAN TEMAN BAGI ANAK-ANAK....
![]() |
|
Anak-anak Asrama Putera Serawai
sedang belajar di aula
|
Hari
pertama mengajar di SMP Bukit Raya tanggal 13 Februari 2008. Wuihhhh…….. ini adalah
pengalaman mengajar di depan umum yang pertama. Apalagi anak yang aku hadapi
anak SMP. Deg-degan rasanya.
SMP Bukit Raya yang terletak di Kecamatan Serawai adalah tempatku berkarya sebagai anggota MAVI selama beberapa tahun. SMP Bukit Raya adalah SMP tertua di wilayah jalur Sungai Melawi dan sampai sekarang adalah satu-satunya SMP Katolik di daerah hulu Sungai Melawi ( bulan September 2012 ini SMP Bukit Raya berusia 50 tahun).
Beberapa
hal yang aku lakukan untuk menyemangati anak-anak belajar di kelas (walaupun
mereka energik tetapi saat belajar harus ada bunyi “brak” dulu baru mereka
konsen mendengarkan. Secara intelektual, mereka termasuk kelas yang rata-rata
kepandaiannya) adalah memberi kesempatan menggambar dan menempelkan gambarnya
di dinding kelas, mengajak makan bersama setiap Senin pagi dengan bekal
masing-masing, mengajak mereka untuk mengeluarkan pendapat dan memecahkan
masalah bersama, mengajak untuk peduli dengan teman atau keluarga teman yang
sakit, serta mengajak mereka membuat doa spontan. Beberapa cara yang aku
lakukan adalah adaptasi dari buku Toto Chan dan implementasi hasil kunjungan
beberapa hari di SD Mangunan Yogyakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)

