Malam itu aku sendirian di dalam
mikrolet. Sudah sangat malam. Jalan masih lumayan ramai. Kendaraan seperti
tiada henti lalu lalang. Mikrolet-mikrolet juga seakan berkejaran tanpa jeda.
Tapi pejalan kaki dan para kandidat penumpang mikrolet udah banyak berkurang.
Aku meringkuk di sudut belakang.
Terasa dingin. Badanku lelah dan pegal-pegal. Mungkin karena umur. Tapi, sejak
pagi terus menerus dalam perjalanan kayaknya memegang peranan paling penting.
Kuberharap segera berhenti. Segera sampai di tujuan. Menemukan air segar untuk
wajah yang pasti dah kacau balau. Lalu secepatnya mencari posisi horisontal
yang nyaman untuk badan penat ini.
