Sore itu, matahari mulai terbenam perlahan di sisi barat. Ayam
tengah berbaris menuju kandangnya. Gerobak nasi goreng lengkap dengan nasi
putih, bumbu, sayur, kompor dan wajan sudah siap menyambut pembeli.
Ahmadi (35) yang saban malam bergelut dengan panasnya wajan segera
bergegas menggunakan celana selepas sholat magrib. Tak lama kemudian ia
mendorong gerobak nasi goreng menyusuri jalan-jalan di Bendul Merisi Wonokromo
Surabaya.
Bermodalkan suara, ia memanggil konsumen sepanjang jalan yang ia
lalui dengan kata "nasi goreng" hingga berkali-kali.
