Beberapa
tahun lalu aku pernah diminta oleh sebuah komunitas untuk memberi rekoleksi.
Oleh karena rekoleksi diadakan diluar kota, maka jam 3 aku siap-siap berangkat.
Sebelum berangkat ke tempat rekoleksi aku harus menjemput beberapa orang yang
akan ikut rekoleksi, sebab mereka tidak mempunyai kendaraan. Saat sedang
menyetir mobil menjemput beberapa orang, teleponku berbunyi. Seorang teman
memberi kabar kalau tetangga depan rumah singgah sakit keras. Dia seorang ibu
yang sudah cukup tua dan sering sakit-sakitan. Aku jawab besok saja sepulang
rekoleksi aku akan membawanya ke rumah sakit. Temanku mengatakan kali ini sudah
parah. Aku jawab bahwa aku sedang dalam perjalanan ke luar kota. Akhirnya
telepon ditutup. Sekitar pukul 17.00 aku sudah sampai di tempat rekoleksi.
Teman tadi menelepon lagi dan memberi tahu bahwa ibu itu meninggal dunia.
Timbul rasa sesal dalam hati. Kenapa aku tidak membawanya ke rumah sakit
terlebih dahulu? Mengapa aku mengandaikan bahwa dia akan baikkan lagi seperti
biasanya? Mengapa aku lebih mementingkan memberi rekoleksi daripada menolong
orang? Aku terlambat. Terlambat menolong orang yang seharusnya kutolong.
